25.8.22

// sebab kita semua gila seks //



bagi saya, buku yang baik adalah buku yang memiliki daya tarik tersendiri. daya tarik ini bisa ditemukan melalui sampul, judul, maupun kalimat awal pada halaman pertama. lantas, daya tarik buku ini terletak pada judulnya yang provokatif, ditambah desain sampul yang cukup "mengundang" rasa penasaran.

selama membaca buku ini, saya hanya bisa mengumpat untuk setiap halaman yang kubaca. "anjir! bener banget!". umpatan saya bukannya tidak mendasar. saya menemukan semua hal tentang seks pada buku ini benar adanya. terlepas itu adalah pengalaman pribadi saya sendiri maupun pengalaman orang lain yang pernah kuketahui. nyatanya, perihal tidur bersama tidak hanya sekadar menginginkan enaknya saja. banyak hal yang mengikutinya. embel-embel perasaan yang disertai oleh kebutuhan dan niat dari seks itu sendiri patutnya dipahami. banyak hal yang sebetulnya harus dipelajari sebelum melakukan kegiatan "tidur bersama" ini. segala hal yang menyangkut seks, yang kerap dipandang tidak sopan ketika dibahas, nyatanya bisa memberikan pembelajaran berarti jika digali melalui cara yang tepat.

"berbeda dengan hewan yang melakukan seks untuk bereproduksi, manusia punya banyak motif untuk berhubungan seks."

ketika membaca buku ini, nilai-nilai agama sepertinya harus diabaikan dulu, disertai pemikiran yang harus dibuka selebar-lebarnya. sketsa-sketsa erotis akan sering kau jumpai di tiap pemabahasan. terlebih, dengan bahasa sederhana dan tanpa basa-basi, tulisan ester yang lebih bisa disebut sebagai essai ini terkesan sangat berani dan lagi-lagi provokatif dalam artian baik.

tidak bisa dipungkiri, pembahasan tentang seks masih sangat tabu dewasa ini. padahal, apa salahnya, sih, membahas seks? kupikir, sebaiknya kita harus menormalisasi pembahasan tentang seks. kenapa? karena seks tidak pernah ditemukan pada pembelajaran di sekolah. apalagi dari orang tua di rumah. pembahasan tentang seks dianggap tidak sopan jika disinggung meski secuil. maka, buku ini sepertinya bisa menolong segala ketabuan yang dirasa selama ini.

pemahaman kita tentang seks dan segala macam "misteri" yang selalu saja berusaha disembunyikan agar tidak menjadi pembahasan, berhasil diutarakan di buku ini secara blak-blakan, terlepas dari pengalaman pribadi ester maupun orang-orang di sekitarnya. masalah utama dalam melakukan kegiatan seks adalah bagaimana kita harus lebih konsen tentang kesehatan seks. "tidur bersama" tidak sesederhana kedengarannya. 

satu hal yang pernah saya tuliskan pada sebuah status di media sosial saya, "kalian bebas ngewe. itu urusan kalian. urusan selangkangan adalah ranah pribadi. tapi, please, cerdaslah!" kecerdasan yang kumaksud adalah pemahaman tentang siklus resproduksi dan segala macam hal-hal untuk memproteksi diri dari hal-hal yang tidak diinginkan. yang paling utama adalah kebersihan dan kesehatan organ reproduksi.
*.

23.8.22

// gagal menjadi manusia //



'gagal menjadi manusia" kuselesaikan dalam perjalananku melintasi laut dengan menumpangi kapal pelni, menuju jakarta. buku ini habis kubaca dengan perasaan sedikit menyakitkan sekaligus kosong. barangkali karena si tokoh utama hampir tidak mengalami kesulitan hidup sedikit pun, kecuali konflik di dalam dirinya sendiri ketika harus memikirkan apakah perbuatannya baik atau buruk. yang justru karena hal tersebut dia selalu menyembunyikan diri.

hari-hari oba yozo dijalaninya dengan kegilasahan. kerumitan pemikiran dan bagaimana ia melihat manusia lain tak jarang menimbulkan ketakutan dan kebingungan tersendriri. segalanya berkecamuk, tidak biasa, sulit dipahami, dan jauh dari apa yang disebut kenormalan menurut masyarakat. oba yozo, mengatakan begini,

“bagiku kehidupan berkelompok itu mustahil. ditambah lagi mereka sering mengucapkan bualan-bualan semacam antusiasme jiwa muda dan kebanggan penerus bangsa. dibuat merinding aku tiap kali mendengarnya.”

yang saya sebut menyakitkan adalah bagaimana akhirnya saya menyadari bahwa nyatanya banyak oba yozo lain di luar sana. yakni manusia yang bingung dengan dirinya sendiri, terlena dengan kecemasan dan pikiran-pikiran yang sulit dipahami manusia lain, hingga membuat hidupnya berantakan. lantas, segalanya menjadi lebih rumit ketika sebuah ritme kehidupan berjalan dengan tempo yang cepat. misal, kehidupan di kota besar.

lebih daripada itu, saya menemukan sebuah pengingat melalui kegelisahan yang dituturkan dazai osamu bahwa manusia itu banyak menipu dan berpura-pura. bahkan untuk sekadar membentuk kehidupan sosial pun manusia tak sungkan untuk melabeli diri dengan "tidak menjadi diri sendiri", hanya agar bisa diterima sebagai manusia normal. segalanya menjerumuskan, sulit diperbaiki, dan mungkinkah yang seperti itu membuat kita gagal menjadi manusia?

"sebelum ada yang menyadarinya, aku telah menjadi badut yang ulungseorang anak yang tidak pernah mengucapkan kejujuran dalam kata-katanya."

jika ditelisik dan dipahami lebih jauh, oba yozo adalah bentuk pesimis seorang manusia dalam memandang kehidupan; ketakutan ketika disayangi, ketidakpercayaan, hingga gambaran kekelaman dalam diri seseorang yang mempertanyakan tujuan hidup.

*.

22.7.22

// lebih putih dariku //

 


suatu ketika, pada masa hindia belanda, isah yang merupakan gadis jawa sekaligus putri seorang pembatik di keraton yogya, menolak perjodohan dengan lelaki yang berusia jauh lebih tua darinya. suatu malam di tahun 1900-an, isah melawan keinginan orang-orang yang ada di sekitarnya dan dengan percaya diri memilih keluar dari rumah tempat ia dibesarkan. isah meninggalkan kehidupan lamanya di dalam keraton yang membelenggu, termasuk meninggalkan perempuan yang melahirkannya.

keinginan hatinya yang begitu kuat mengantarkannya ke seorang prajurit belanda. tidak untuk dinikahi, tetapi dijadikan seorang nyai. isah menyadari kedudukannya pada saat itu. ia menyerahkan seluruh hidupnya pada lelaki bernama gey, yang kelak memberinya dua orang putri yang tidak pernah mengenalinya.

sebelum lebih jauh, saya ingin mengungkapkan bahwa betapa istimewanya buku ini. hidup yang dijalani isah begitu menyentuh hingga membuat saya tidak hentinya menitikkan air mata ketika buku ini selesai kubaca. "kasihan, isah!" adalah dua kata yang kuucapkan sembari terus memikirkan nasib hidupnya yang memilukan. berulang kali saya menghela nafas panjang dan berat ketika membayangkan nasib seorang nyai seperti isah yang hidup pada masa itu.

membaca "lebih putih dariku" tidak hanya sekedar membaca sejarah, tetapi kita menyelami pahitnya kehidupan seorang nyai yang diwakili oleh perempuan bernama isah. bahwa harapan indah yang didamba bisa begitu kejamnya menghancurkan tatkala kenyataan menancapkan pilar, memberi nyeri di antara buku-buku. hidup sebagai nyai seperti harapannya tidak berpihak pada pada isah. sayangnya, ia tidak pernah mengetahui itu hingga semuanya terjadi dan menghancurkannya perlahan.

patriarki yang membelenggu pada masa itu menggambarkan status sosial yang sangat memengaruhi kehidupan isah di dalam keraton. keterbelengguan ini tidak berakhir ketika isah meninggalkan kehidupannya di keraton, tetapi masih ia jumpai di kehidupan barunya sebagai seorang nyai. isah seolah tidak bisa mengungkapkan keinginan hati dan melakukan apa yang diinginkan. apa yang dihadapi isah di kemudian hari adalah bentuk kekejaman hidup yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. rasisme pada masa kolonial sangat terang-terangan menjadi jurang pemisah, memutuskan rasa kemanusiaan.

kehidupan isah sebagai seorang nyai semakin tidak berarti ketika gey memutuskan untuk meninggalkannya. memberinya dua orang putri yang segera dipisahkan darinya pada saat itu juga. isah tidak lagi memiliki hak atas kedua putrinya, isah dibuat seolah tidak terlihat, dihapus namanya, dan dibuat tidak pernah ada bagi kedua putrinya. isah seumpama perabot yang hanya menunggu dipindahkan sesuka hati oleh majikannya.

mewakili perasaan isah yang sepanjang usianya terbelenggu kepahitan hidup dan hanya terus menggapai kemungkinan demi kemungkinan yang jauh dari kepastian dan kebahagiaan, "aku harus bagaimana atau harus seperti apa agar diperjuangkan, dicintai, dan dipilih?"

seperti yang telah diketahui, istilah nyai cenderung dipandang negatif. tetapi, lebih daripada itu, kisah tentang nyai seringkali juga adalah sebuah kepiluan. di buku ini perenungan atas segala anggapan tersebut bisa dirasakan melalui penyampaian cerita yang sederhana, sekaligus memberikan kesan yang mendalam. menimbulkan emosi yang mengalir secara alami, seiring bagaimana kisah hidup isah yang mengaduk perasaan hingga halaman terakhir. kisah hidup isah dan nyai-nyai lainnya masih bisa dilihat hingga kini melalui potongan-potongan gambar yang menyimpan sejarah kelam, yaitu perbudakan halus dan mematikan terhadap perempuan.

*.