20.4.19

// raden mandasia si pencuri daging sapi //


"kenangan, dari apa kau terangkai? bagimana aku mesti mengerat dan membaginya kepada yang lain? aku teringat nyai manggis. tanpa bisa kutahan, air mataku menetes. sial, aku benar-benar sudah jadi manusia penangis." hlm. 238


sekali lagi, saya dibuat takjub oleh bacaan yang menghadirkan kisah tidak biasa dan memiliki keistimewaan melalui karakter-karakter yang dimunculkan. melalui karakter sungu lembu, maka sebuah kisah diceritakan serupa dongeng tentang raden mandasia yang memiliki kebiasaan mencuri daging sapi. bukan hanya itu, selain kisah raden mandasia ada pula kisah nyai manggis, watugunung, sang juru masak loki tua, kasim U yang dikuliti, serta seorang putri tabassum yang dikisahkan sebagai putri yang sangat jelita hingga tidak diperbolehkan ada cermin di dalam istana. sebagai pencerita, sungu lembu mengajak kita memasuki dunia yang ajaib dengan karakter-karakter serta kejadian-kejadian yang menyertainya.


bermula ketika sungu lembu meninggalkan tanah kelahirannya, banjaran waru, dengan dendam terhadap watugunung, seorang raja gilingwesi yang menjajah dan menghanguskan rumah serta mengambil semua miliknya. sungu lembu menginginkan kematian watugunung, maka dimulailah perjalanan sungu lembu menuntaskan dendamnya.

akan tetapi, sebuah perjalanan tidak akan pernah semulus yang direncanakan. sungu lembu bertemu dengan nyai manggis, seorang perempuan cantik pemilik rumah judi dengan aura yang membuat siapa saja tidak berani menyentuhnya. ternyata, nyai manggis juga memiliki niat melawan gilingwesi. kisah nyai manggis yang pada mulanya adalah seorang gadis terhormat hingga nasib menjadikannya seorang pemiliki rumah judi merupakan bagian kesukaan saya. melalui nyai manggis, sungu lembu memperoleh keistimewaan, termasuk dipertemukan dengan raden mandasia, salah seorang pangeran gilingwesi yang juga berniat menghentikan perang yang akan dilakukan gilingwesi terhadap kerajaan gerbang agung.

bersama raden mandasia, sungu lembu yang masih muda dan kurang matang dengan rencana balas dendamnya diajak melakukan hal-hal yang tidak biasa, yaitu mencuri daging sapi. lantas, dikemanakan daging sapi hasil curian itu? tentu saja disantap oleh mereka. di sini adalah salah satu keseruan ceritanya, melalui penuturan cara mengolah daging sapi dan rempah-rempah apa saja yang digunakan itulah saya kerap dibikin ngiler dan seketika juga ingin menyantap daging sapi.

tak bisa dielak, sungu lembu dan raden mandasia melewati petualangan yang luar biasa dan hebat. kau akan dibuat bertanya-tanya apakah ini kisah yang benar-benar ada atau memang hanyalah dongeng seperti yang tertulis pada sampul buku. termasuk bagian yang konyol adalah ketika mereka melakukan perjalanan di gurun, mereka terpaksa berlari beberapa hari tanpa henti, bahkan makan dan minum pun dilakukan sambil berlari.

kisah yang juga menjadi kesukaan saya adalah kisah seorang kasim U--yang merupakan pelayan di kerjaan putri tabassum--yang rela kulitnya dilepas dari tubuhnya. tentu saja, hanya raden mandasia yang bisa melakukan hal-hal tak terduga tersebut. alasannya agar mereka bisa bertemu dengan putri tabassum yang terkenal jelita sehingga tak ada satu pun cermin yang harus terpasang di istana, konon cermin-cermin bisa retak karena kecantikannya. maka, pada akhirnya, mereka secara bergantian memakai kulit kasim U--layaknya pakaian--demi bertemu putri tabassum. namun, apakah sang putri memang secantik itu?

semua cerita yang dituliskan dalam buku ini terasa sangat kompleks. sebut saja, proses pembuatan kapal hingga ilmu berlayar dengan berpedoman pada bintang-bintang di langit. ada pula, asal mula penamaan warna untuk hal-hal yang kerap dijumpai di kehidupan sehari-hari, seperti darah untuk warna merah, susu untuk warna putih, yang patah hati untuk jingga pudar, yang ragu-ragu untuk ungu, dan sebagainya.

dengan rencana awal sungu lembu yang ingin membunuh watugunung dan tidak terlaksananya niat raden mandasia yang ingin menghentikan perang antara gilingwesi dan kerajaan gerbang agung, maka cerita memasuki tahap perang, di mana pada bagian ini membuat saya sedikit kebosanan dengan detail peperangan yang diceritakan dan juga terkesan terburu-buru untuk diakhiri. akan tetapi hal tersebut tidak mengurangi keistimewaan dari buku ini, dan kisah raden mandasia si pencuri daging sapi memberikan kejutan di akhir cerita melalui pengakuan seorang dewi sinta.

membaca raden mandasia si pencuri daging sapi seolah membaca maha karya yang sangat elegan. terkutuklah saya yang baru bisa menikmati buku ini setelah membacanya untuk yang kali kedua. ada perasaan puas yang sangat menyenangkan dan kelegaan tersendiri ketika saya selesai membaca buku ini. lagi-lagi ada penyesalan kenapa baru sekarang saya menemukan keistimewaannya.


"seiring waktu, aku makin mengerti apa yang dimaksudkan pamanku. kemenangan terhebat dalam pertempuran justru ketika kita tak perlu mengangkat senjata. masih ada lagi: tak ada senjata yang lebih tajam ketimbang akal, tak ada perisai lebih ampuh ketimbang nyali, dan tak ada siasat yang lebih unggul ketimbang hati." hlm. 84.

*.