28.1.26

// percakapan paling panjang perihal pulang pergi //

 



"percakapan paling panjang perihal pulang pergi" adalah sebuah kolaborasi yang terasa sangat personal. rasanya seperti mendengarkan podcast intim dari dua sahabat yang sedang membahas isu-isu mendasar dalam hidup, yaitu tentang kehilangan dan kedekatan.

"pulang" dan "pergi" dalam konteks kehidupan, hubungan, dan kematian bukanlah sekadar tentang perjalanan fisik, melainkan perjalanan hidup. menelisik lebih jauh untuk kata 'pergi' (kehilangan) dalam buku ini, kak theo dan kak wes adalah penulis yang selalu jujur. maka dengan senang hati, saya akan menerima untuk berbagi duka. tidak bisa dipungkiri, cara kita bernegosiasi dengan kesedihan, dan bagaimana sisa-sisa ingatan telah membentuk diri kita saat ini.

maka, 'pulang' (penerimaan diri) adalah proses mencari rumah, bukan dalam bentuk bangunan, melainkan dalam diri sendiri atau dalam hubungan yang tulus, yang pada akhirnya semoga kita bisa berdamai dengan masa lalu dan menemukan tempat yang aman.

meskipun banyak kesedihan dan trauma, tulisan kak theo dan kak wes terasa menenangkan dan hangat tanpa melodrama yang berlebihan. Vulnerable adalah kekuatan, semua orang (termasuk diri kita) berhak merasa bingung dan sedih. barangkali, puisi-puisi ini bisa membuat kita berhenti sejenak, mengambil napas, dan menyadari bahwa setiap pergi akan selalu diikuti oleh kesempatan untuk pulang ke diri kita yang utuh.
*.

25.8.22

// sebab kita semua gila seks //



bagi saya, buku yang baik adalah buku yang memiliki daya tarik tersendiri. daya tarik ini bisa ditemukan melalui sampul, judul, maupun kalimat awal pada halaman pertama. lantas, daya tarik buku ini terletak pada judulnya yang provokatif, ditambah desain sampul yang cukup "mengundang" rasa penasaran.

selama membaca buku ini, saya hanya bisa mengumpat untuk setiap halaman yang kubaca. "anjir! bener banget!". umpatan saya bukannya tidak mendasar. saya menemukan semua hal tentang seks pada buku ini benar adanya. terlepas itu adalah pengalaman pribadi saya sendiri maupun pengalaman orang lain yang pernah kuketahui. nyatanya, perihal tidur bersama tidak hanya sekadar menginginkan enaknya saja. banyak hal yang mengikutinya. embel-embel perasaan yang disertai oleh kebutuhan dan niat dari seks itu sendiri patutnya dipahami. banyak hal yang sebetulnya harus dipelajari sebelum melakukan kegiatan "tidur bersama" ini. segala hal yang menyangkut seks, yang kerap dipandang tidak sopan ketika dibahas, nyatanya bisa memberikan pembelajaran berarti jika digali melalui cara yang tepat.

"berbeda dengan hewan yang melakukan seks untuk bereproduksi, manusia punya banyak motif untuk berhubungan seks."

ketika membaca buku ini, nilai-nilai agama sepertinya harus diabaikan dulu, disertai pemikiran yang harus dibuka selebar-lebarnya. sketsa-sketsa erotis akan sering kau jumpai di tiap pemabahasan. terlebih, dengan bahasa sederhana dan tanpa basa-basi, tulisan ester yang lebih bisa disebut sebagai essai ini terkesan sangat berani dan lagi-lagi provokatif dalam artian baik.

tidak bisa dipungkiri, pembahasan tentang seks masih sangat tabu dewasa ini. padahal, apa salahnya, sih, membahas seks? kupikir, sebaiknya kita harus menormalisasi pembahasan tentang seks. kenapa? karena seks tidak pernah ditemukan pada pembelajaran di sekolah. apalagi dari orang tua di rumah. pembahasan tentang seks dianggap tidak sopan jika disinggung meski secuil. maka, buku ini sepertinya bisa menolong segala ketabuan yang dirasa selama ini.

pemahaman kita tentang seks dan segala macam "misteri" yang selalu saja berusaha disembunyikan agar tidak menjadi pembahasan, berhasil diutarakan di buku ini secara blak-blakan, terlepas dari pengalaman pribadi ester maupun orang-orang di sekitarnya. masalah utama dalam melakukan kegiatan seks adalah bagaimana kita harus lebih konsen tentang kesehatan seks. "tidur bersama" tidak sesederhana kedengarannya. 

satu hal yang pernah saya tuliskan pada sebuah status di media sosial saya, "kalian bebas ngewe. itu urusan kalian. urusan selangkangan adalah ranah pribadi. tapi, please, cerdaslah!" kecerdasan yang kumaksud adalah pemahaman tentang siklus resproduksi dan segala macam hal-hal untuk memproteksi diri dari hal-hal yang tidak diinginkan. yang paling utama adalah kebersihan dan kesehatan organ reproduksi.
*.

23.8.22

// gagal menjadi manusia //



'gagal menjadi manusia" kuselesaikan dalam perjalananku melintasi laut dengan menumpangi kapal pelni, menuju jakarta. buku ini habis kubaca dengan perasaan sedikit menyakitkan sekaligus kosong. barangkali karena si tokoh utama hampir tidak mengalami kesulitan hidup sedikit pun, kecuali konflik di dalam dirinya sendiri ketika harus memikirkan apakah perbuatannya baik atau buruk. yang justru karena hal tersebut dia selalu menyembunyikan diri.

hari-hari oba yozo dijalaninya dengan kegilasahan. kerumitan pemikiran dan bagaimana ia melihat manusia lain tak jarang menimbulkan ketakutan dan kebingungan tersendriri. segalanya berkecamuk, tidak biasa, sulit dipahami, dan jauh dari apa yang disebut kenormalan menurut masyarakat. oba yozo, mengatakan begini,

“bagiku kehidupan berkelompok itu mustahil. ditambah lagi mereka sering mengucapkan bualan-bualan semacam antusiasme jiwa muda dan kebanggan penerus bangsa. dibuat merinding aku tiap kali mendengarnya.”

yang saya sebut menyakitkan adalah bagaimana akhirnya saya menyadari bahwa nyatanya banyak oba yozo lain di luar sana. yakni manusia yang bingung dengan dirinya sendiri, terlena dengan kecemasan dan pikiran-pikiran yang sulit dipahami manusia lain, hingga membuat hidupnya berantakan. lantas, segalanya menjadi lebih rumit ketika sebuah ritme kehidupan berjalan dengan tempo yang cepat. misal, kehidupan di kota besar.

lebih daripada itu, saya menemukan sebuah pengingat melalui kegelisahan yang dituturkan dazai osamu bahwa manusia itu banyak menipu dan berpura-pura. bahkan untuk sekadar membentuk kehidupan sosial pun manusia tak sungkan untuk melabeli diri dengan "tidak menjadi diri sendiri", hanya agar bisa diterima sebagai manusia normal. segalanya menjerumuskan, sulit diperbaiki, dan mungkinkah yang seperti itu membuat kita gagal menjadi manusia?

"sebelum ada yang menyadarinya, aku telah menjadi badut yang ulungseorang anak yang tidak pernah mengucapkan kejujuran dalam kata-katanya."

jika ditelisik dan dipahami lebih jauh, oba yozo adalah bentuk pesimis seorang manusia dalam memandang kehidupan; ketakutan ketika disayangi, ketidakpercayaan, hingga gambaran kekelaman dalam diri seseorang yang mempertanyakan tujuan hidup.

*.